Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2018

Saya Pernah Menjadi Penulis

Saya pernah menjadi penulis. Di sini, di rumah abu-abu ini yang kubuat tahun 2016 lalu. Menulis sesuka hati, dan setidak suka hati tapi tetap harus nulis. Dan pelan-pelan tahu, menulis adalah dunia paling eksklusif. Saya punya dunia terkeren di sini. Menjadi Hikmah yang terang. Tapi itu dulu. Saat hari-hari rasanya penuh dengan keyakinan-keyakinan kuat, cerita-cerita hebat. Lalu, berlari waktu tanpa suara... saya ternyata sudah berkalang tanah. Menimbun diri sendiri dalam kemalasan, berbagai alasan. Lalu jemari menjadi kaku. Semua tulisan menjadi semakin menye-menye saja. Tanpa manfaat. Hikmah lupa untuk kembali pada alamat kebaikan ini. Dan sekarang, Hikmah pulang. Menikmati aroma malam di sudut sofa abu-abu paling berdebu. Selamati aku, Diri. _________ Sabtu, 21 April 2018 || 21.43 Rumah Tahfidz. Setelah haru Arif menuntaskan setoran sekali duduk 4 juznya. Setelah bahasan berat malam ini di rumah ODOP 3. Dan tahu, saya rindu dan harus pulang #comeback #onedayonepost

Jadikan Ia Lebih Daripada Dirimu

Kamu percaya? Kita sama-sama menyayanginya. : lelaki kecil menggemaskan yang dihadiahkan Tuhan Di bulan-bulan pertama pernikahan kita. Kau ingat apa kata yang pertama kali bisa diucapkannya dengan baik? "Bba... Bba... abba" Bukan "ummi".  Sungguh bukan. Dan aku cemburu. Bukankah harusnya "ummi" yang pertama dipanggilnya? Harusnya aku bukan? Sebab aku yang menyuapi, memberi makan, membuatkan susu, memandikan dan mengajaknya bernyanyi pula mengaji dan bercerita setiap hari? Kenapa kamu yang dipanggilnya pertama kali dengan baik? Lalu berjalan hari, aku mengerti. Dirimu yang menemaninya bermain paling setia dengan cara paling laki-laki. Tertawa dalam proses banting-membanting, menemaninya bermain bola di atas kaki "O" tubuh montoknya, membiarkannya menyentuh bulu tubuh kambing dan merasakan sensasi di atas kuda. Menangkapkannya ayam sekadar untuk membuatnya meringis dan tertawa. Dengan semua caramu, dia menyayangi dan menempatkanmu sebaga