Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2018

R E S I G N

Hikmah resign? Serius? Kok bisa? Kenapa? Sejak kapan? Terus sekarang ngapain? Gak nyesel? ...... Bukan cuman lima enam orang yang bertanya, beberapa menchat personal, beberapa bertanya langsung. Dan cerita singkat terulang seperti radio rusak, seperti jari-jariku latah menulis jawaban yang sama. Iyya. Hikmah resign dari tempat kerja yang luar biasa dinamika dan harmoninya. Sebuah tempat kerja sekaligus tempat mengabdi, belajar dan mereguk banyak kesempatan. Yang akhirnya jadi kenangan saja sekarang. Alasannya sederhana saja,

Doakan Hikmah, Yaya.

Saya baru saja selesai dari perihal beberes rumah, cuci piring, menyapu dan bersih-bersih diri. Sebelum itu, saya sudah menghabiskan sebotol milo hangat yang dikirimkan Hafsah, memakan martabak dan rujak secukup perutku sendirian. Iya sendirian saja ngemil dengan rezki yang sampai di rumah pukul 23.16. Karena dia sudah lelap dari sejaman yang lalu, Oofa tidak ada dan tetanggaku adalah mudir tahfidzul Qur'an dan asrama putra. Bukan. Bukan tak mau berbagi pada tetangga. Tapi saya tidak cukup gila kalau harus berbagi dan mengetuk pintu mereka di malam yang menyisakan hanya suara serangga dan lolongan anjing  saja.  Sambil menghabiskan milo hangat tadi, saya ngobrol dengan seorang kawan yang menjadi bagian dari pengumpulan donasi jilbab demi sebuah agenda amal yang kalau tidak salah adalah Hijab Day. Kita membahas perihal gimana-gimana nanti pengambilan donasi kalau sudah dikumpulkan teman-teman. Obrolan yang kemudian berlanjut pada sebuah pujian yang dia sebut sebagai pengakuan

Anak Pertama Setelah Dua Dasawarsa Berlalu

"Jadi guru, Nak. Itu pekerjaan paling mulia di dunia." "Menghafal, Nak. Biar nanti di akhirat bangga juga kami jadi orangtua." "Menulis, Nak. Banyak kebaikan yang bisa tersampaikan dengan tulisan." Itu pesan-pesan bapak dan mama. Berganti-ganti kudengar dari  lisan mereka, di beberapa kesempatan yang berulang. Dan saya mengingatnya, selalu. Hingga dari dulu sudah kutahu akan jadi siapa saya besar nanti. Saat seorang Hikmah dipanggil jadi guru TK bahkan sebelum graduation day SMA,  bapak dan mama tersenyum lucu nan syukur. Saat seorang Hikmah dipanggil untuk menjadi pembina di Spidi, mata senja mereka tersenyum bangga penuh syukur. Saat kubilang pada mereka akan kuliah keguruan sambil bekerja... ada yang hidup menyala-nyala di hati dan wajah tua mereka. Pendidikan di keluarga sederhana kami adalah sesuatu yang sangat istimewa. Saya mengingat senyum bangga dan haru di mata tua mereka. Dan hinggapun hari ini seorang Hikmah belum menjadi Hafidzah, saya s

Terima Kasih, Cinta

Dear, Kamu. Demi lelah dan luka-luka di tanganmu, aku berterima kasih. Terima kasih untuk rumah cinta yang purna kau hadiahkan ini. Bukan tentang megahnya, tapi tentang segala pengorbananmu yang kau kalung dengan ikhtiar nan ikhlas. Hingga tak lelah aku jatuh cinta, berkali dalam sehari. Sama tak lelah kumohon pada Tuhan agar kita menyetia hingga surga.

Menjadi Seorang Kakak

Tulisan ini tidak akan panjang. Tidak akan sepanjang doa-doaku saat menangis tadi. Pula bahasanya, tidak akan semenye perasaanku yang remuk. Sebab tak pernah ada kata yang bisa membahasakan luka, bukan? Menjadi seorang kakak ternyata berat. Baru sore tadi benar-benar kusadari. Kepedihan dan trauma mama bapak perihal masa lalu rasanya ditumpah Tuhan tiba-tiba padaku. Dan ngilu tubuhku menanggung. Limbung dengan luka baru yang dibayangi trauma keluarga kami, di masa belasan tahun yang silam, mungkin bahkan sudah dua dasawarsa berlalu. Dan terisak kudoakan adik-adik agar mereka setia saling sayang. Ditenangkan  dan dilapangkan Allah hati mereka. Pula aku. Dek, saling sayanglah kita. Jangan bertikai perihal sepele, sebab kita adalah saudara. Yang menanam janji di dasar hati paling putih : Kita takkan mengulang luka di masa lalu. Tidak ketika kita sudah kehilangan kakak pertama Tidak ketika mama dan bapak sudah membawa borok di hati  mereka hingga di usia senja. Dek, saling sayangl

Ustad. Muzayyin Arif : "Tragedi Guru Budi : Kartu Kuning Pendidikan Karakter"

Tragedi Guru Budi: Kartu Kuning Pendidikan Karakter Oleh Muzayyin Arif (Ketua Yayasan Edukasi Sejahtera, Sekolah Insan Cendekia Madani, Jakarta) Berita meninggalnya seorang guru di Kabupaten Sampang, Madura karena dipukul oleh muridnya sendiri, telah mengetuk nurani dan memanggil banyak pemerhati pendidikan (termasuk kami) untuk datang berkunjung, berbelasungkawa, mendoakan almarhum dan membesarkan hati keluarganya. Bagaimanapun ini kejadian yang memprihatinkan, bahkan mungkin pertama kali dalam sejarah seorang murid begitu tega menghajar gurunya sendiri di dalam kelas saat pelajaran berlangsung. Ahmad Budi Cahyanto (27 tahun), guru seni rupa di SMAN 1 Sampang, meregang nyawa beberapa jam setelah seorang muridnya memukul dirinya dengan keras persis di leher bagian belakang (titik yang mematikan), hanya karena sang murid dibangunkan dari tidurnya dengan menggunakan kuas lukis saat pelajaran berlangsung. Menurut informasi yang disampaikan oleh kerabat almarhum, sang guru yang pendia

Anak Perempuan Durhakamu Rindu...

Matahari sebentar lagi purba di kaki langit, menuju maghrib berarak awan menuju barat, indah. Kupandangi semuanya dari jendela kecil kamar nan gelap anakku. Lalu rinduku semakin menggulung, Mama, Bapak. Ngilu di dadaku, memukul-mukul. Aku, Ima... anak perempuanmu yang paling durhaka merinduimu, Ma, Pak. Ima, anak perempuan mama yang selalu mama keluhi malas kerja dan makan rindu dimarahimu, Ma. Ima, anak perempuan bapak yang selalu malas menyeduh kopi dan menyiapkan hidangan, rindu melihat dan memainkan tangan  di rambut putihmu, Pak. Waktu melesat cepat dan umurku sudah dua puluh dua tapi aku masihlah anak perempuan kecil kalian kan, Ma, Pak? Sering  kubilang akulah anak teristimewa, meski sering kusengaja tak membereskan rumah adalah yang paling membuatmu masygul, Ma... Sering kubilang akulah anak terfavorit bapak, meski membaca buku-buku agama dan rajin menulis masih menjadi nasihat bapak yang masih sering sengaja kulupa. Pun demikian aku... Ima boleh rindukan, Ma, Pak?

Dilan dan Sumanga'

Yang paling pandai dan banyak dalih untuk mengingkari janji sendiri adalah manusia, pun janji terhadap dirinya sendiri. : Aku. Berbulan-bulan rumah ini sepi, berdebu dan tak seceria dulu. Riuh kata-kata menjadi mati. Semisal abjad sudah habis dilumat orang lain. Dan aku tak lagi punya bagian. "Bilangin ke Dilan, yang berat itu bukan rindu tapi konsisten menulis setiap hari." Ketika begitu banyak orang di media sosial  yang minta buat disampaikan pesan-pesannya ke Dilan bahwa ada yang lebih berat dari rindu ; ditikung, uang panai', harga sembako, tagihan listrik, berbagai cicilan sampai ngulek di dapur, dll ... saya lebih glek dengan pesan untuk Dilan yang  terbold italic di atas itu. Dduar! Lalu mengingat janji dan mimpiku sendiri, rasanya malu. Hikmah emang ngapain selama ini? Busy banget yah? Kerjaannya apa? Kan udah resign, harusnya konsist dong nulisnya... katanya nggak mau jadi mama-mama biasa aja, katanya mau jadi mama-mama  ker en yang rajin baca dan nulis b