Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2017

Sebab Perempuan Pertama Tak Pernah Niscaya Sebagai Yang Paling Setia

Dia.   Lelaki belasan tahun dengan bibir yang selalu terkatup rapat, potongan rambut biasa tanpa aroma minyak wangi sama sekali, kering saja. Juga dengan segumpal kesedihan di matanya. Untuk pertemuan yang selalu, tanpa pernah ada jejak senyum. Hatiku basah. Saat kursi-kursi masih berjejer tak beraturan, riuh rendah berbagai suara masih memenuhi ruangan, piring-piring bekas makan para tamu masih tergeletak di berbagai sudut, dan sendok gelas   masih menyisakan bekas bibir mereka, untuk sepersekian detik waktu seolah berhenti di matanya. Aku beku. Dia bergeming di sudut ranjang kecil itu, duduk santai dengan luka-luka dan rindu pada perempuan yang tak putus dipandanginya.  Berapa lamakah hati mengajari anak manusia agar tabah pada tabiat rindu yang menyiksa? Bagaimanakah Tuhan mendidik hamba agar tak membenci pelaku luka yang paling borok? Bagaimanakah Tuhan melatih seorang bocah agar pandai menyembunyikan air mata bahkan pada seorang perempuan yang pertama kali diru

Kamu = Alasanku Ingin Bersinar

Beberapa tahun yang lalu, saat kujejaki tanah masih sebagai anak esempe, perempuan kecil kolot yang hanya tahu ini itu saja, di masa itu, aku mengenalmu. Kakak kelas yang shalehah, yang selalu ke masjid dengan mukena renda hijau dan dikali yang lain mukena berenda kuning-coklat. Kakak cerdas, santun dengan senyum paling sahaja. Diam-diam, aku menyukaimu. Ternyata kita suka dunia yang sama; dunia kata-kata. Meski nyata, kita berdiri di level yang jauh berbeda. Puisi dan cerpen-cerpenmu sudah banyak yang terbit di koran dan ikut dalam beberapa antologi. Kau bahkan pernah menjabat sebagai ketua umum FLP Maros.  Seantero kampus mengenalmu, Kak. Perempuan puisi. Dan semakin aku memujimu. Kakak kelas yang kemudian menjadi kakak pembina, kakak asrama, pengganti mama dan ibu guru. Yang membangunkan untuk shalat shubuh dan bersiap ke sekolah, yang mengarahkan ke masjid, makan dan menjadi guru di kelas, dengan cara yang di mataku selalu kilau. Perempuan dengan senyum paling sahaja, yang men

Peluk Erat, Kak Iis. Allah mencintaimu, Kak

Aku bersedih, Allah. Saat Kauambil milikMu yang Kautitipkan di bumi, ada sesak. Sungguh sesak. Sebab dia adalah dia, kakak tersayang yang nama lainnya adalah kebaikan, keteladanan. Ajal. Mengapa air mata lebih cepat melesat jatuh ketimbang doa-doa yang harusnya melangit?? Maafkan aku. Aku sungguh tak menyangka. Jikalau ayat kematian; Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mati_ sungguh sudah kutelan mentah-mentah. Tapi percaya, tidak sama seperti bersabar tepat pada saat pukulan pertama kabar duka itu sampai. Kak Iis... K Iis... Kak Iis... Menjadi baik bukankah adalah pilihan? Lalu kemudian menyatu dalam diri. Menjadi nama lain, menjadi nama belakang. Sama seperti saat kutetapkan hati untuk memujamu diam-diam, lalu saat dewasa mengerti bahwa tak perlu malu mengakuinya... aku mencintaimu, Kak. Pernah ada waktu saat kita berbicara berdua saja, dan kulangitkan pujian kepada Allah tersebab sempurna menciptakanmu, Kak. Aku takjub. Kau kilau. Cerdas yang menyenangkan, sahaja. Kau telada

Terima Kasih, Bapak-Bapak Pekerja Jalan

Perihal membuat opening atau lead sebuah tulisan, saya kurang pandai. Selalu ada banyak kata-kata yang tumpah ketika hendak memulai. Banyak rasa yang mengendap-endap kemudian buncah. Nano-nano. Seperti pagi sejuk ini. Langit yang birubiru kalem,  udara yang masih segar dan rasanya semua yang ada di dunia hanya kebaikan. Rasanya ingin kupeluk Tuhan. Erat. Hari ini hari penamatan santri-santriku. Anak-anak, adik-adikku. Tersebab penamatan dilaksanakan di auditorium kedokteran unhas Makassar, kita  berangkat sebelum pukul 06.00 pagi agar bisa memastikan semua siap sebelum acara dimulai pukul 08.00. Untuk hal berepot-repot ria saat langit masih saja gelap, adalah hal yang biasa di sekolah kami. Anak-anak exited sekaligus mengaku deg-degan. Sekarang, kami sudah berada di bus kedua. On the way unhas Perjalanan pagi, selalu lebih istimewa dari perjalanan banyak waktu yang lainnya. Kita bisa melihat matahari yang pelan-pelan terbit, memecah langit dengan anggun. Cantik yang terlalu. Saat

Sebelum Dua Puluh Tujuh

Menjadi perempuan dua puluh tujuh tahun, semoga Allah   mengizinkan…   Ketika masa itu tiba, aku sudah lebih matang dalam hal   kepribadian. Bahwa life begin in twenty seven, not forty. Ada banyak hal yang akan berubah, ini dan itu. Dulu, waktu masih sembilan belas tahun, di balik   ke absurd anku, aku menyimpan keresahan. Takut menjadi perempuan   usia dua puluh tahun. Apalagi makin hari dua puluh tahun pelan-pelan akan berganti, dan akhirnya menjadi dua puluh satu, dua puluh lima, dua puluh tujuh. Ketakutan yang lebay hanya karena terpengaruh dengan ungkapan bahwa “kehidupan orang berumur itu ribet, menjadi dewasa itu berat.” Lagipula, diriku bahkan bukan seorang cenayan yang tahu sampai kapan usiaku berhenti. Hokeh, ungkapan itu mungkin kudapat dari terlalu sering membaca novel-novel yang kurang bermanfaat atau dari sinetron-sinetron picisan saat zaman jahiliyah dan menjabat sebagai pemuja benda kotak itu. Tuh kaann, malah menyalahkan dua hal itu untuk ketakutan m

Kamar Sendiri

Oofaku sudah beranjak besar. Lelaki kecil berkulit olon , hidung pesek, bibir mancung dan berbadan montok itu pelan-pelan kehilangan tampang menggemaskannya. Time flies so fast...Rasanya belum terlalu lama aku memilikinya. Membiarkan banyak waktu remajaku habis dengannya. Harus menidurkan, memandikan, membuatkan susu dan menyuapi. Dari bubur khusus bayi dengan cemilan favoritnya; biskuit Phyramid serta buah pepaya dan pisang. Lalu berpindah ke bubur nasi dan mulai memakan beberapa jenis biskuit dan wafer. Hingga sekarang, gigi kecilnya sudah tak lagi asing dengan berbagai jenis makanan. Iyya, waktu terbang dengan cepat dan kulewati dengan kecepatan sahaja saja. Seolah baru tahu, dia tak mungkin selamanya kecil. Hingga rasanya menakjubkan ketika harus mengenang semuanya. Dari sejak pertama kali kumiliki, kami sudah berbagi tempat tidur yang sama. Menceritakan dongeng-dongeng pengantar tidur, murajaah hafalan-hafalannya, atau sekedar bercerita apa saja. Aku sudah terbiasa. Hin

Sungguh Entah

Aku butuh untuk bicara, tapi di sini saja. Setelah _siapapun_ kamu membacanya, maafkan aku. Dalam beberapa keadaan, beberapa tempat, aku merasa begitu bahagia, begitu bersemangat, begitu merasa percaya diri. Merasa seolah ada cahaya yang meliputi diriku. Aku terang. Sangat terang. Hingga semuanya terasa mudah, terasa menyenangkan. Aku menjadi diriku. Tak ada yang palsu, tak perlu ada kepura-puraan, tak perlu berlagak bodoh hanya untuk menutupi ketidaksetujuanku dengan yang lain. Teman-teman menjelma menjadi sahabat yang sangat berharga. Itu keadaan dan tempat yang membahagiakan. Ruang yang begitu melegakan. Dalam beberapa keadaan dan hanya ada satu tempat. Aku bukanlah diriku. Terlalu banyak kepura-puraan, terlalu banyak waktu yang harus kuambil dengan berlagak bodoh. Meski tidak ingin, tapi pilihan yang kupunya sedikit. Kelam, mungkin gelap. Hingga yang lain merasa tak perlu menghargai. Entah. Sungguh entah. Menyesakkan. Selamat jalan kalian, Dek. Baik-baik di sana. Sabtu, 0

Hanif : Jawaban atas Mimpi Mama dan Bapak

Hanif... Seolah tunai semua cita dan harapan-harapan mama-bapak  saat kudengar kabar tentang khatammu, Dek. Hari ini, Senin Pagi. di satu Mei dua ribu tujuh belas. Tidak pernah kulupa waktu-waktu dimana selalu bergantian mama-bapak membicarakan harapan-harapan mereka. Bahwa anak-anaknya akan menjadi guru, menjadi orang yang paling berjasa. Paling terhormat. Dan tak ada yang lebih membanggakan selain kita_anak-anaknya, menjadi hafidz dan hafidzah. Tidak akan lebih membanggakan bahkan meski kelak kita berada di putaran takdir berlimpah kekayaan. Tidak akan kulupa harapan-harapan mereka, Dek. Sebab semuanya seolah sudah menempel di dinding-dinding, menggantung di langit-langit rumah kita. Bahwa mama-bapak ingin surga, ingin hadiah jubah kemuliaan yang berkilau di akhirat nanti. Sebab Allah ridha, sebab Allah merahmati. Tapi lihatlah, Dek...dari sembilan kita bersaudara, kau yang  anak ketujuh adalah yang pertama menkhatamkan alqur'an tiga puluh juz. Lima ka